Selamat Datang

Minggu, 28 April 2013

Sinopsis Gu Family Book Episode 6-1

Kang Chi kecil sangat marah. Walau wajahnya babak belur, tapi kemarahannya sangat nyata di matanya.
Menatap mata kecil yang penuh amarah itu, bukannya marah, Tuan Park malah tersenyum sayang. Di hadapannya tak hanya Kang Chi yang berlutut padanya. Tapi juga lima anak laki-laki yang semuanya juga babak belur. Dengan sabar, Tuan Park bertanya alasan Kang Chi memukuli teman-temannya.
“Karena mereka mengatakan kalau aku adalah anak yang dibuang di sungai!” teriak Kang Chi.
“Apakah kau merasa malu karena kau dibuang di sungai?”
Mata Kang Chi meredup, dan sambil menunduk ia menjawab, “Ya.”
Tuan Park tersenyum dan memahami duduk persoalannya. Dengan berjongkok di depan Kang Chi, ia berkata pelan, “Tapi Kang Chi.. Kurasa itu adalah kejadian yang sangatl baik.” Kang Chi mendongak heran dan Tuan Park pun meneruskan, “Jika saat itu kau tak dilarung di sungai .. Aku tak akan pernah bertemu denganmu.”
Mata Kang Chi berkaca-kaca menahan haru mendengar kata-kata itu, “Tuanku..”
“Walau tak berhubungan darah, kita dapat menjadi keluarga karena cinta. Di dalam hatiku, kau sudah kuanggap sebagai anakku. Apakah kau mengerti?”
Kang Chi mengangguk-angguk, tapi air matanya malah mengalir. Tuan Park menepuk bahu Kang Chi, bangkit dan berkata pada teman-teman Kang Chi, “Jadi, kalian jangan pernah lagi mengejek Kang Chi kalau ia adalah anak buangan. Mengejeknya sama dengan mengejekku.”
Anak-anak itu mengkerut segan pada Tuan Park, sedangkan Kang Chi menatap Tuan Park sambil tersedu-sedu. Tuan Park kembali menoleh pada Kang Chi dan berkata, “Apakah kau sudah tak apa-apa?”
Kang Chi tertawa sambil terisak dan mengangguk-angguk bahagia.
Suara tawa Kang Chi kecil itu terngiang saat Tuan Park menghambur ke depan, menghalangi pedang yang akan menusuk Kang Chi.
Dan suara tusukan pedang  itu mengagetkan semuanya.
“Tuanku…!”
Sinopsis Gu Family Book Episode 6 – 1



Semua diam terpaku, kaget melihat Tuan Park tertusuk pedang. Kang Chi yang lebih dulu pulih dari rasa kagetnya, mengaum dan memukul ninja itu hingga terjatuh. Ia berbalik langsung menangkap tubuh Tuan Park dan memanggil, “Tuanku.. Tuanku..!”
Dengan nafas tersengal-sengal, Tuan Park malah bertanya pada Kang Chi, “Apakah kau baik-baik saja?” Tuan Park membelai pipi Kang Chi yang basah oleh air mata. Terpatah-patah, ia berkata, “Jangan pernah lupa, .. kau sudah kuanggap anakku… Kumohon.., lindungilah .. Tae Soo .. dan .. Chung Jo..”
Nafas Tuan Park tiba-tiba tersentak dan tangan yang tadi membelai pipi Kang Chi sekarang terkulai lemah. Kang Chi shock melihat Tuan Park tak bergerak lagi di pelukannya. Ia menggoncangkan tubuh Tuan Park perlahan dan memanggil Tuan Park, tapi tubuh itu tetap tak bergerak
“Ayaahh..!” teriak Tae Soo memanggil ayahnya, menyadarkan semua kalau Tuan Park sudah tiada.
Chung Jo dan Han No terpaku tak percaya. Nyonya Yoon jatuh ke tanah, tak kuat menerima kenyataan ini. Bahkan Kepala Polisi pun tak percaya melihat Tuan Park terbunuh.
“Tidak, Tuanku. Bangunlah,” pinta Kang Chi, menolak untuk percaya kalau Tuannya sudah meninggal. “Kumohon kembalilah..” Tapi Tuan Park tetak tak bergerak. Menyadari hal ini, Kang Chi hanya dapat berteriak sekeras-kerasnya meluapkan emosinya.
Dan teriakan Kang Chi itu seakan memanggil angin untuk bertiup kencang dan menyuruh awan untuk menutup bulan. Kelopak bunga sakura berterbangan dan api obor pun hampir padam.
Di luar, Biksu So Jung memandangi penginapan Seratus Tahun dengan khawatir. Di dalam Yeo Wool dan Gon heran merasakan perubahan cuaca itu.
Mereka mencoba mengintip dari atap penginapan, dan merasakan angin yang sangat kencang. Gon menutupi Yeo Wool agar tidak tertiup angin secara langsung.
Semua merasakan terpaan angin itu, hanya  Kang Chi yang tak mempedulikannya. Matanya menatap Jo Gwan Woong dengan penuh kebencian dan berteriak, “Aku akan membunuhmu!”
Jo Gwan Woon kaget melihat mata Kang Chi yang sekarang berubah menjadi kehijauan. Ia tak sempat menghindar saat Kang Chi melompat menyerangnya sambil berteriak, “AKU AKAN MEMBUNUHMU!!”
Tapi niat Kang Chi terhenti karena tiba-tiba Biksu So Jung muncul di hadapannya dan langsung menohoknya di perut. Tak disangka, tongkat Biksu So Jung itu menahannya sehingga ia tak mampu menggerakkan badannya. Ia mencoba mengerahkan tenanganya tapi sia-sia.
Gelang Kang Chi berpendar lagi, Kepala pengawal dan Jo Gwan Woong melihatnya, membuat mereka penasaran. Namun mereka tak dapat memandangi lama karena angin bertiup semakin kencang. Mereka pun melindungi diri dari terpaan angin yang semakin ribut.
Mendadak angin menghilang dan bulan pun muncul kembali. Suasana hening, dan mereka semua menyadari kalau Kang Chi dan Biksu itu telah menghilang! Para tentara itu ribut mempertanyakan hilangnya Kang Chi.
Tapi tatapan Tae Soo dan Chung Jo hanya terpaku pada jasad ayahnya yang terbaring di tanah. Perlahan, Tae Soo mendekat dan memanggil ayahnya. Tapi mata Tuan Park sudah kosong. Tae Soo menangis tersedu-sedu saat menutup mata ayahnya. 
Dam Pyung Joon terkejut saat mendapat kabar kalau sahabatnya, Tuan Park, telah tewas. Begitu pula Lee Soon Shin, dan ia semakin terkejut saat mendengar kalau Tuan Park dituduh telah melakukan pengkhianatan.
Kediaman Tuan Park telah berantakan. Tapi dinding rahasia itu masih tertutup. Begitu pula ruang penyimpanan harta masih tak terjamah oleh para tentara.


Bong Chul kaget mendengar Tuan Park dituduh melakukan pengkhianatan. Ia terkejut dan membanting sendoknya saat diberitahu kalau tuduhan itu didasarkan dugaan kalau Tuan Park membiayai para pemberontak. Bong Chul pun bertanya-tanya dimana Kang Chi saat itu?
Para penduduk berkerumun di depan penginapan, dan mereka terkesiap kaget melihat sebuah mayat terbungkus dan digotong untuk dibawa oleh lembu. Mereka semakin kaget saat keluarga dan para pelayan Tuan Park didorong-dorong dengan kasar. Chung Jo yang sudah lemah, terjatuh.
Tapi kepala pasukan malah menyambar kerah baju agar Chung Jo berdiri dan membentaknya, “Jalanlah yang benar!”
Chung Jo bangkit dan menepis tangan tentara itu, “Beraninya kau! Singkirkan tanganmu!” Tapi tentara itu langsung menamparnya hingga Chung Jo terjatuh, “Wanita jalang! Kau ini hanyalah putri seorang penjahat tapi kau malah bertingkah seperti bangsawan?”
Chung Jo bangkit lagi dan menatap penuh rasa marah pada kepala pasukan itu.
Salah satu dari orang yang berkerumun langsung berteriak membela, “Tak mungkin! Bagaiamana mungkin Tuan Park adalah seorang penjahat?”
Pembelaan itu seolah menular, dan teriakan-teriakan protes mulai mengalir dan semakin lama semakin tak terkendali. Kepala pasukan itu langsung menghunus pedangnya, “Siapa yang berani memihak pada pemberontak? Yang akan mengeluarkan sepatah kata, akan langsung dibunuh!”
Dan semua tentara itu berdiri dengan posisi menyerang pada rakyat yang berkerumun. Orang-orang pun terkesiap ketakutan dan langsung mundur. Kepala pasukan itu memerintahkan anak buahnya untuk segera mengangkut jasad Tuan Park.
Tapi gerobak itu tak mau bergerak. Lembu yang menarikpun juga tak mau maju. Bahkan ketika empat orang tentara mendorong gerobak itu dari belakang, roda kereta itu tak maju bahkan sesenti pun.
Orang-orang mulai ramai bergunjing melihat hal itu. Semakin  keras para tentara itu mendorong, gerobak itu tetap kembali ke tempatnya. Nyonya Yoon menatap mayat suaminya iba, dan menyuruh para tentara itu untuk minggir.
Nyonya Yoon dengan lembut mengusap  tikar jerami yang menutupi tubuh almarhum suaminya dan berkata, “Kurasa kau juga tak ingin pergi.. Apakah kau masih ingin di sini? Semuanya sudah berakhir sekarang.. Jadi..” Nyonya Yoon tercekat dan berkata pelan, “Lepaskanlah semuanya ini, suamiku…”
Tae Soo terisak, menangis tersedu-sedu mendengar kata-kata ibunya, “Lepaskanlah semua kebencian yang kau rasakan. Pergilah..”
Chung Jo menirukan apa yang dilakukan ibunya, meletakkan tangan di badan ayahnya. Begitu pula Tae Soo.
Pelayan Choi dan Han No juga mengikuti langkah Tae Soo. Bersama-sama mereka memegang gerobak itu dan mulai mendorongnya.
Dan keajaiban terjadi. Gerobak itu bergerak perlahan saat didorong oleh keluarga Tuan Park. Kepala pasukan itu terkejut melihat kejadian itu.
Begitu juga orang-orang yang menyaksikannya. Semua terisak, tak peduli pria maupun wanita, rakyat biasa maupun para bangsawan, menangisi kepergian Tuan Park. Suasana haru, tangis pilu dan doa menyertai perjalanan almarhum Tuan Park dan seluruh keluarga yang sekarang menjadi tawanan.
Bong Chul heran karena tak melihat Kang Chi, bahkan ujung rambutnya. Salah satu kroninya menduga kalau Kang Chi melarikan diri. Tapi Bong Chul tak percaya hal itu.
Suara seorang tentara membenarkan dugaan itu. Sambil menempelkan kertas pengumuman, tentara itu mengatakan kalau Kang Chi melarikan diri setelah membunuh Tuan Park. Bong Chul kaget mendengar pernyataan yang tak masuk akal itu. Walaupun imbalan jika bisa menyerahkan Kang Chi sangatlah menggiurkan. 200 nyang.
Yeo Wool marah, tak percaya kalau Kang Chi dituduh sebagai pembunuh Tuan Park. Malam itu, semua orang menyaksikan bagaimana Tuang Park ditusuk oleh pengawal Jo Gwan Woong.
Gon menduga kalau kubu Jo Gwan Woong takut pada kemarahan rakyat  Yosu yang menganggap Tuan Park sebagai dewa. Dan dengan hilangnya Kang Chi, kubu Jo Gwan Woong langsung menimpakan tuduhan pembunuhan itu pada Kang Chi.
Begitu mudah gossip menyebar. Orang-orang langsung melihat pengumuman pencarian Kang Chi dan menuduh Kang Chi sebagai orang yang tak tahu berterima kasih dengan membunuh ayah angkatnya sendiri. Mereka juga berkomentar kalau itu sebabnya orang sebaiknya tak memungut anak yang dibuang.
Dari kejauhan, Biksu So Jung mengatai perkembangan ini dengan sedih dan khawatir.
Gon mencoba mencegah Yeo Wool yang berniat untuk mencari Kang Chi. Ia menyarankan agar Yeo Wool untuk tidak membuat kekacauan dan segera kembali ke rumah.
Sambil tetap berjalan, Yeo Wool menolaknya.
“Bicaralah dulu pada Tuan (Dam),” saran Gon kembali.
“Tak mau.”
“Yeo Wool-ssi!,” Gon menarik tubuhnya Yeo Wool.  Tapi saat itu Yeo Wool berteriak mengungkapkan kekhawatirannya, “Saat itu pasti sudah terlambat!”
“Jika kita berpikir dan berdiskusi terus, mungkin semuanya akan terlambat,” kata Yeo Wool lebih tenang. “Semalam, kita tak dapat melakukan apapun dan hanya bisa melihat Tuan Park meninggal. Jika anak itu ditangkap dengan tuduhan pembunuhan, jelas ia pasti akan mati.”
Gon bertanya apa yang akan Yeo Wool lakukan jika telah menemukan Kang Chi? Apakah Yeo Wool akan menyembunyikannya? Dan Gon naik darah mendengar Yeo Wool mengiyakannya, “Dan bagaimana jika nona dituduh sebagai kroninya? Tuan dan semua orang kita akan ikut terseret. Apakah nona tak memikirkannya?”
“Saat ini yang akan aku lakukan adalah menemukannya dulu,” tekad Yeo Wool, “Setelah itu aku akan memikirkan langkah berikutnya.” Dan Yeo Wool pun berbalik pergi.
“Mengapa?” tanya Gon menghentikan langkah Yeo Wool. “Mengapa kau sangat peduli padanya?”
Yeo Wol berbalik dan menjawab, “Ia telah menyelamatkan nyawaku. Dua kali. Tentu saja aku sangat peduli padanya. Bukankah harusnya begitu?”
Dan Yeo Wool pun berlalu pergi. Gon hanya bisa mendesah frustasi.
Seluruh anggota keluarga Park termasuk para pelayan dibawa ke kantor polisi. Semua akan dijebloskan ke dalam penjara. Kecuali Tae Soo yang akan diinterogasi.
Chung Jo dan Nyonya Yoon terkejut. Diinterogasi itu sama saja dengan disiksa. Nyonya Yoon berkata kalau anaknya tak tahu apa-apa. Tapi Nyonya Yoon malah didorong hingga jatuh.
Dibantu Chung Jo berdiri, Nyonya Yoon bertanya marah, “Kejahatan apa yang kami lakukan? Kau mengambil nyawa suamiku. Kenapa kau sekarang mengambil anakku? Tak boleh. Bawa saja diriku. Bunuh saja diriku!”
Tae Soo menenangkan ibunya, “Ibu, jangan lakukan ini,” tapi Nyonya Yoon masih belum bisa tenang, sehingga Tae Soo harus menggoncangkan tubuh ibunya dengan lebih keras, “Ibu!”
Menatap wajah ibunya, Tae Seo mencoba tegar dan memaksakan senyum padanya, “Aku akan baik-baik saja. Tak akan terjadi apa-apa padaku selama ibu masih ada di sini. Aku tak akan menjadi anak yang  tak berbakti. Jangan khawatir..”
Ibu menangis dan memeluk Tae Soo. Tapi para tentara itu segera menarik Tae Soo dari pelukan ibunya sehingga ibu berteriak histeris, tak rela melepaskan anaknya.
Dan Tae Soo dibawa ke lapangan untuk diinterogasi. Hatinya sedikit ciut melihat alat-alat penyiksaan yang disediakan untuknya.
Kepala polisi muncul dan memimpin interogasi. Tapi dari anggukannya pada ruangan yang tertutup kelambu, menunjukkan kalau pimpinan sebenarnya adalah orang di dalam ruang tertutup itu.
Si Jo Gwan Woong. Ia duduk sambil menyesap tehnya. Dan interogasi itupun dimulai.
Di penjara, mereka semua menunggu. Pak Choi, ayah angkat Kang Chi, bertanya-tanya kemana Kang Chi menghilang? Han No hanya bisa mendengarkan tanpa tahu jawabannya juga.
Tiba-tiba terdengar erangan Tae Soo. Ibu mendongak ke atas, mendengarkan asal suara itu. Ia pun berdiri dan meminta penjaga untuk melepaskannya, “Apa yang kalian lakukan pada anakku? Buka pintu ini!”
Penjaga itu menyuruh ibu untuk tak membuat keributan. Tapi ibu terus menangis dan memohon penjaga itu untuk melepaskannya. Penjaga itu tak menggubris kata-kata ibu malah berlalu pergi. Suara erangan itu terdengar lagi.
Chung Jo buru-buru menutup telinga ibunya, “Jangan dengarkan itu. Ibu harus bisa bertahan. Ibu harus bisa menahannya.”
Ibu semakin menangis mendengar erangan Tae Soo lagi. Terus menangis hingga akhirnya badannya tak kuat menahan penderitaan itu. Ibu pun pingsan.
Para pelayan langsung mengerubuti ibu, menangis, tak tahu apa yang akan terjadi pada nyonya mereka. Masih menangis, mereka mencoba membangunkan ibu.
“Diam! Jangan menangis!” perintah Chung Jo. Para pelayan baik pria maupun wanita, memandang nona muda mereka yang bersikap tegar, “Jangan mengeluarkan suara tangisan. Jangan merasa lemah. Kita harus menahannya. Kita harus bisa bertahan.”
Tapi dalam hati Chung Jo menangis, bertanya pada Kang Chi, “Kang Chi, dimanakah dirimu? Kang Chi-ah!”
Dan Kang Chi tiba-tiba tersentak bangun. Dan Ia heran melihat tempat yang belum pernah ia lihat. Masih merasakan efek pukulan tongkat Biksu So Jung, ia pun keluar dari gua dan terheran-heran melihat daerah itu. Taman Cahaya Bulan.
Tiba-tiba Biksu So Jung muncul. Ia membawakan makanan untuk Kang Chi dan bertanya bagaimana sakit di perut akibat tongkatnya.
Kang Chi merasakan sakit di perutnya. Tapi rasa itu juga mengingatkannya pada hal lain, “Tuanku.. “ Ia pun bertanya pada Biksu So Jung, apa yang terjadi pada Tuan Park, Chung Jo dan Tae Soo, “Apa yang terjadi pada yang lainnya? Mengapa aku hanya sendirian di sini?”
Biksu So Jung tak menjawab malah mengajak Kang Chi untuk makan karena ia telah membawa beberapa makanan untuknya.
Tahu ia tak akan mendapat jawaban, Kang Chi berbalik pergi. Tapi Biksu So Jung menghentikannya, “Tak ada hal lain yang dapat kau lakukan sekarang.” Kang Chi berbalik menghadap Biksu So Jung yang berkata, “Bahkan jika kau kembali pun kau tak dapat merubahnya lagi. Jadi lupakan tentang Penginapan Seratus Tahun. Tinggallah di sini dengan tenang selama 10 hari.”
Kang Chi menganggap ucapan Biksu itu tak masuk akal dan merasa sangat kesal. Rumah yang harus ia tinggali adalah Penginapan Seratus Tahun. Keluarganya ya keluarga di sana. “Kau memintaku untuk melupakannya? Dan apa yang akan aku lakukan di sini?”
“Akulah yang seharusnya marah padamu!” Biksu So Jung balas berteriak, “Percuma juga membaca tanda-tanda langit dan meramalkannya untukmu karena kau tak mau mendengarka ramalanku!
Kang Chi mengerutkan kening, heran. Biksu So Jung mengingatkan Kang Chi kalau sebelumnya ia sudah mengingatkan Kang Chi untuk tak memasuki penginapan sampai keesokan harinya, “Jika kau tak di sana, Tuan Park pasti tak akan mati seperti itu.”
Kang Chi terkejut mendengar kata-kata pahit Biksu So Jung. Tapi Biksu So Jung tetap memintanya untuk mendengarkannya dan tetap tinggal di tempat ini sebelum sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Tak mau!” Kang Chi berbalik pergi.
“Ini adalah keinginan terakhir dari ibumu.” Kata-kata Biksu So Jung membuat Kang Chi terpaku.
“Apa yang kau bilang?” Kang Chi menatap So Jung tak percaya, “Ibuku? Apakah kau mengenal ibuku?”
“Aku adalah sahabat ayahmu dulu,” kata Biksu So Jung, membuat Kang Chi menatapnya, antara percaya dan tak percaya.
Tae Soo sudah babak belur dan berdarah-darah. Jo Gwan Woon menhampiri Tae Soo dan dengan kipasnya, ia memeriksa wajah Tae Soo yang kemudian hanya bisa mendecakkan lidah, pura-pura menyesali mengapa Tae Soo ragu untuk melaporkan dirinya ke aparat pemerintah.
Tae Soo teringat pertemuan terakhir itu. Saat itu ia mengatakan kalau ia sebenarnya ingin menjebloskan Jo Gwan Woong ke penjara, tapi ayahnya mencoba menghormati Jo Gwan Woong yang pernah menjabat sebagai Asisten Menteri.
Dan seakan menabur luka di hati Tae Soo, Jo Gwan Woong berkata, “Ckckck.. Kelakuanmu itu yang telah membunuh ayahmu.”
Ughh.. si Jo Gwan Woong ini menyalahkan semua orang atas kematian Tuan Park, kecuali dirinya sendiri.
Tae Soo bersumpah akan membunuh Jo Gwan Woong bagaimanapun caranya. Sumpah serapah itu hanya ditanggapi enteng oleh Jo Gwan Woong yang berkata, “Dulu, banyak orang yang mengatakan hal seperti itu padaku.. dan aku telah membunuh mereka yang pernah mengatakan itu padaku. Apa kau mengerti sekarang? Apa artinya kalau kau bertentangan denganku?”
Jo Gwan Woong meninggalkan Tae Soo yang berteriak marah padanya.
Di ruangannya kepala pengawal memberitahukan kalau mereka tak berhasil menemukan Kang Chi walau sudah mencarinya  kemana-mana. Jo Gwan Woong merasa terusik dengan Kang Chi karena tatapan Kang Chi yang menggangu. Jo Gwan Woong bertanya pada Kepala penjaganya, apa yang mungkin terjadi.
Kepala pengawal menduga kalau hal itu pasti berkaitan dengan gelang yang Kang Chi pakai. Setiap Kang Chi berkelahi, ia melihat gelang itu bersinar misterius. Ia mendengar kalau ada yang  beberapa orang yang memakai aksesoris untuk membantu mereka untuk bertempur.
Dan Jo Gwan Woong pun semakin penasaran atas identitas asli Kang Chi, “Jangan bunuh dia. Bawa dia padaku hidup-hidup.”
Kepala polisi datang menghadap untuk memberitahukan hasil interogasinya yang nihil. Tak ada pengakuan yang dapat diambil dari Tae Soo.  Tapi bagi Jo Gwan Woong, semua itu bukan masalah karena mereka sudah memiliki bukti di tangan. Dan Kang Chi yang membunuh Park Mu Sol.
Kepala polisi agak ragu. Ia pun bertanya apa yang akan terjadi pada Penginapan 100  tahun dan keluarga setelah kejadian ini. Jo Gwan Woong tersenyum dan menyuruh untuk melakukan cara yang biasa, “Bunuh ahli warisnya dan jual seluruh anggota keluarga yang lainnya sebagai budak. Dan aku akan membeli penginapan itu dengan harga yang pantas.”
Kepala polisi terbelalak mendengar Jo Gwan Woong sendiri yang ingin membeli penginapan itu. Tapi matanya semakin terbelalak, kali ini penuh antusiasme  setelah Jo Gwan Woong berjanji untuk memberikan posisi Kepala polisi di provinsi.
Mata Kepala Polisi semakin berbinar-binar saat Jo Gwan Woong mengatakan, “Selama kita ada di pihak yang sama, aku akan dapat membantumu agar dinaikkan di ranking yang lebih tingi.”
Terbata-bata, Kepala Polisi menyembah Jo Gwan Woong dan berterima kasih padanya . Ia berjanji untuk menyiapkan segalanya agar Jo Gwan Woong dapat mengambil alih penginapan Seratus tahun itu sebagai miliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar